Laman

Friday, 24 March 2017

Sehari di Jeju


Selama empat tahun lebih gue baru sekali ke Jeju itupun sehari dan sudah dimasa masa akhir visa tinggal gue habis. Ke pulau Jeju bisa di tempuh dengan banyak cara tapi yang jelas tidak bisa dengan cara ngesot. Ya iya lah,  kalau eloh mau ke Jeju ngesot bakal tenggelam di laut duluan sebelum nyampe ke Jeju.

Cara paling mudah dan cepat menggunakan pesawat, dengan durasi penerbangan satu jam bisa langsung sampai Jeju. Harga tiket pun masih terjangkau, terlebih waktu waktu hari kerja harga tiket jauh lebih murah dibanding akhir pekan atau musim liburan. Hampir semua kota besar  di Korea mempunyai jadwal penerbangan ke Jeju.

Pergi seorang diri dan dari hasil browsing kalau disana bakal ribet misalkan kita menggunakan transportasi umum. Tempat wisata yang bejauhan dan hanya bus, kalaupun sewa taksi untuk ramai ramai gue rasa lebih hemat dan mudah. Karena gue sendirian memutuskan untuk ikut travel tour yang ada di guesthouse seharga 69 ribu won sudah termasuk makan siang alias terima beres.

Jadwal dan destinasi sudah ditetapkan dan tujuan destinasi utama sudah termasuk dalam list travel tour. Berikut destinasi gue pas ke Jeju :

1. Naik Kuda

Gak menarik dan biasa saja. Naik kuda dengan jarak pendek dan kemudian sesi foto yang apabila ingin di cetak plus frame dikenakan tarif 30rb won. Kudanya sangat jinak dan nurut, saking standarnya, guide pun sebelum sampai bilang bahwa ini gak terlalu menarik dan biasa saja.

2. Berkunjung ke desa tradisional


Pada dasarnya konsep desa tradisional di Korea tidak jauh berbeda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Karena beberapa kali sudah mengunjungi desa tradisional, menurut gue tempat ini biasa saja. Spesialnya kami rombongan berkunjung ke salah satu rumah yang dijelaskan history rumahnya dan sedikit tentang kisah tentang Jeju.  

3. Pantai

Pantai ini biasa saja dan tidak berombak, sedikit berbatu dengan pasir yang tidak begitu putih dengan tekstur kasar. Menjadi lebih cetar adalah dengan hiasan bekas erupsi gunung berapi  nama Koreanya ilchulbong. Atuhlah gue kurang paham dengan sejarahnya silahkan nyari saja ceritanya sama simbah google. 


 4. Seongsan Ilchulbong 

Jadi itu kalau di foto dari atas berbentuk seperti mangkuk. Gue rasa itu adalah foto andalan untuk promosi pulau Jeju. Ini macam bekas erupsi gunung berapi yang sudah terjadi ratusan ribu tahun silam. Tempat ini juga merupakan UNESCO world heritage gitu. Tujuan gue ke Jeju sih pengin lihat ini dari dekat.


gue dan rombongan tour


Untuk bisa sampai ke atas harus menaiki ratusan anak tangga. Karena males capek, gue jalannya gak sampai atas. Tempat ini super duper ramai dan lengkap banget fasilitas pendukungnya. Berbagai macam kafe, rumah makan, shoping outlet banyak tersedia. Pas gue numpang nge-hits disitu, ramai turis dari China. 

Jika ingin puas menikmati keindahan tempat ini, sediakan waktu banyak agar bisa menikmati sunset ataupun sunrise. Kalaupun tidak, eloh bisa berkeliling diseputaran kawasan ini dengan menggunakan boat berbayar. 

5. Menyusuri Gua


Destinasi yang terakhir menurut gue hambar banget. Gue disuruh jalan untuk menyusuri gue sepanjang satu kilometer dan kalau di total bolak balik jadi gue berjalan dua kilometer. Sepanjang gua sudah dilengkapi penerangan yang oke untuk bisa menikmati bebatuan dinding dinding gua.

Area untuk berjalan kaki juga sudah dibuat seaman mungkin. Lampu lampu redup yang dipancarkan ke dinding gua membuat nuansa damai. Beberapa bagian juga dilengkapi dengan area tempat duduk untuk beristirahat. Jangan gunakan sepatu berhak jika ingin nyaman menyusuri gua.
 
Ujung gua cuma pengin liat gitu doang
Nah gitu aja rutenya, gue sampai airport sudah sore. Itupun gue dan beberapa peserta tour lainnya   minta langsung turun di airport. Saking baiknya guide tour kami berpisah dengan haru biru. Oke fix itu berlebihan sih bahasa gue. 

Saran gue misalkan pengin liburan ke Jeju, biar lebih mempunyai kebebasan waktu, bisa sewa mobil atau taksi. Jika perginya rombongan dengan beberapa orang akan lebih hemat. Bingung nyari rental atau carter taksi  sesampai di airport langsung cari di tourism information karena disitu banyak brosur promosi. Carter taksi saja untuk mobil ukuran 3 penumpang hanya 150 ribu dan yang jumbo 200 ribu per-delapan jam.

Ya udah gitu doang cerita gue di Jeju...  

Monday, 20 March 2017

Bebas Visa China Untuk Paspor Indonesia


Pas mau balik ke Indonesia dari Korea, incaran nyari tiketnya adalah yang bisa transit lama, murah dan bebas visa. Browsing sana sini harga termurah dengan durasi transit lama adalah Air China. Sebelum melakukan pembelian ngegugel tentang Beijing sebagai tempat transit. Dari hasil gugel ada beberapa orang yang bisa transit di Beijing dan exit tanpa apply China visa terlebih dahulu.

Blog yang gue temukan memang pemegang paspor Indonesia yang masih mempunyai visa negara tertentu yang masih aktif. Hal ini beda sama gue yang sudah tidak memegang visa Korea, karena ini adalah perjalanan pulang gegara sudah habis visa.

Sebenarnya sebelum berangkat kurang pede akan bisa exit di Beijing, tapi karena godaan harga murmer yah sudah beli saja. Urusan bisa exit atau tidak urusan belakangan.  China memberikan free visa selama 3 hari untuk beberapa negara, dan Indonesia bukanlah negara yang termasuk dalam list bebas visa selama 3 hari.

Durasi penerbangan dari Incheon ke Beijing hanya dua jam dan tiket gue akan transit di Beijing selama kurang lebih 24 jam. Mendarat di Beijing sudah sore, dan setelah clingak clinguk lihat papan informasi gue langsung ke area transit untuk pengecekan paspor dan boarding pass. Nyampe Beijing hasrat exit sudah kecil dan niat hati ingin langsung  ke area transit agar bisa goler goler seharian. Nyodorin paspor dan boarding pass, petugas malah bilang dengan bahasa isyarat dimana gue disuruh pindah loket ke bagian imigrasi.

Balik arah dan nyari arrival card untuk di isi, beres ngisi gue bingung harus antri di bagian mana. Nyari orang yang bisa ditanya. Gue nanya sama mbak mbak dan jawaban dia, gue disuruh ngantri dibagian imigrasi yang boardnya kuning. Jawaban mbak itu masih kurang membuat gue pede untuk ikut ngantri. Duduk sembari planga plongo harus nanya ke siapa lagi itulah yang bisa gue lakukan saat itu.

Lihatlah mbak mbak penunjuk jalan untuk transfer flight dari Air China. Gue nanya bisakah gue exit dengan paspor Indonesia dan tidak mempunyai visa China. Mbaknya lihat paspor dan boarding pass gue, terus dia bilang, gue disuruh ngantri di loket imigrasi bagian free visa 72 jam. Gue kemudian ikut ngantri tapi pas lihat depannya lama banget prosesnya dan baca baca syarat-nya, yang menurut gue ribet akhirnya gue mundur dan memilih duduk.

Duduk pilu dan harus bagaimana, itulah benak pikiran gue kala itu. Bolak balik gak jelas, main hape yang mana gak bisa konek sama wifi airport itulah yang bisa gue lakukan. Setelah sepi gue berjalan ke loket imigrasi untuk bagian diplomat, gue jelaskan kasus gue dan dia bilang gue disuruh ngantri di loket imigrasi free visa 72 jam.

Jawaban itu membuat gue makin loyo dan tak berdaya. Gue kembali duduk termangu dalam rasa pilu yang tak berkesudahan. Setelah loket free visa 72 jam sepi, gue beranikan diri untuk ikut antri. Pas tiba giliran, gue kasih paspor, arrival card dan boarding pass. Paspor tercinta gue discan di alat khusus dan hasilnya menurut gue gak bisa. Mbaknya bingung dan kemudian telpon, beres nelpon ngasih stempel di lembar paspor kosong gue, tanpa menanyakan apapun ke gue.

Paspor dan boarding pass gue dikasih, kemudian gue jalan sembari senyum sendiri. Yes dan akhirnya gue bisa lihat Beijing. Setelah gue lihat bagian visa China disitu tertulis hanya sampai tanggal dimana gue akan melakukan penerbangan selanjutnya ke Jakarta.

Jikalau diperhatikan di papan informasi, nomer  flight gue termasuk dalam list free visa 72 jam. Karena minimnya informasi membuat gue gak pede untuk bisa langsung antri. Adanya  syarat booking penginapan dan rute perjalanan selama di Beijing adalah hal yang membuat gue ciut nyali bisa exit di Bejing.  You know lah,  gue akan ngegembel di airport dan pergi tanpa adanya rute yang jelas alias pergi saja.

Jadi ….. misi transit dan bisa jalan jalan di Beijing gue tercapai….. 


Assalamu’alaikum Beijing…..