Laman

Saturday, 2 January 2016

Kerja di Korea #3 : Training



Jika semua proses administrasi terkait berkas sudah beres dan di kirim ke BNP2TKI, maka langkah selanjutnya adalah menunggu. Bukan nunggu jawaban gebetan tapi nunggu pengumanan training. Menunggu pengumaman jadwal  training  yang akan dilakukan di Jakarta. Informasi ini bisa diakses di situs BNP2TKI. Jadi harus rajin cek, kalaupun lembaga kursus berjanji meng-upadate informasi ke peserta didik  saya sarankan wajib cek sendiri karena takutnya terlupa dan telat info.

Training di Jakarta dilakukan kurang lebih satu minggu. Kegiatannya banyak seperti makan, tidur, ngising dan on line, duh kalau ini kan wajib bagi semua orang. Yang benar kegiatannya rupa rupa mulai latihan fisik dengan olahraga, belajar bahasa, medical check up lagi, pemeriksaan berkas asli, dan masih banyak lainnya.

Jika itu sudah selesai maka eloh disuruh pulang untuk kemudian menunggu jadwal terbang pemberangkatan ke Korea. Informasi ini bisa diakses via website BNP2TKI dan karena jadwal ini biasanya mendadak dan mempunyai tenggat yang tidak lama maka harus wajib update biar eloh tidak buru buru persiapan terbang dan melakukan perjalanan dari rumah ke Jakarta.

Sebelum terbang eloh ada waktu beberapa hari untuk mengurus kembali beberapa keperluan yang perlu disiapkan sebelum sampai di Korea. Karena tempat berkumpulnya di tempat Training yang ada di Ciracas maka akan ketemu lagi dengan teman training sebelumnya. Keberangkatan dilakukan secara rombongan yang sudah di atur keberangkatannya sampai dengan bandara Soekarno Hatta. Ke bandara juga sudah disediakan bus dan tinggal duduk manis gak pake gula.

Ketika eloh sudah sampai bandara, tinggal melakukan hal hal sebelum proses penerbangan Internasional. Ceritanya wuz dan sampailah di Incheon, Korea. Tenang saja, tidak usah bingung apalagi galau, karena ada ketua rombongan, tinggal ikuti saja ketua rombongan. Biasanya sudah ditunjuk ketua rombongan sebelum terbang. Jika data diri oke dan memang status tidak  bermasalah maka akan tidak timbul permasalahan baru pada saat pemeriksaan imigrasi di Korea. Terkadang akan ada masalah jika calon TKI sudah pernah masuk ke Korea atau eks Korea dan ternyata meningggalkan beberapa masalah saat di Korea sebelumnya.

Begitu sudah kelaur dan beres proses imigrasi Korea maka akan disambut oleh orang yang akan menjemput rombongan ke tempat training. Jadi akan ada training lagi di Korea sebelum ditempatkan di tempat TKI bekerja. Penjemput bisa orang Indonesia yang bekerja di tempat training dan bisa juga orang Korea atau keduanya.

Selama training di Korea sebelum kerja maka akan banyak hal yang akan diberikan oleh TKI. Bisa belajar bahasa Korea lagi, materi tentang kehidupan di Korea, materi tentang keselamatan kerja dan hukum hukum yang ada di Korea. Ini penting, jadi gue sarankan pahami dengan baik dan baca buku yang dibagikan oleh setiap TKI. Ini tentang dirimu sendiri saat di Korea jadi wajib memperhatikan saat dijelaskan oleh pemateri.

Di tempat training yang ada di Korea sudah disediakan makan dan penginapan dengan layak, waktu training kurang lebih seminggu. Jika semua beres dan ternyata beberapa hal oke tinggal saatnya hari penjemputan yang dilakukan oleh bos pemakai TKI. Bos akan menjemputmu untuk sampai pabrik tempat bekerja. Moment ini sangat mengharukan karena TKI akan berpisah dari teman teman yang lain. Walaupun mengharukan tapi tidak usah lebay dengan nangis guling guling di lantai karena itu bikin illfeel bos mu saat menjemput.  Disinilah eloh akan memulai menjalani hidup dan kerja di Korea yang sesungguhnya.

Bersambung...

Note : Kisah versi pemilik blog dan ini adalah post lanjutan dua postingan sebelumnya tentang kerja di Korea

Tahun Baru di Seoul



Tahun baru eloh ngapain? Gue sih berasa paling hits aja karena pas malam pergantian tahun baru bisa pergi ke Seoul.  Ikutan anak anak kekinian memeriahkan malam tahun baru dengan datang ke sebuah acara. Biar udah tiga tahun lebih di Korea, ini baru pertama sih pergi nge-gaul pas malam tahun baru di Seoul. 

Usai janjian dengan beberapa teman disepakati untuk datang diacara penyambutan malam tahun baru di daeran Jongno area Jonggak station. Browsing acara apa sih yang istimewa di tempat itu, ternyata akan dibunyikan lonceng raksasa. Demi apa coba, baru jam sepuluh malam aja, kawasan acara sudah padat dengan lautan manusia berjaket tebal dibawah suhu dingin dahsyat. 

Bosingak Belfry dijadikan sebagai pusat acara untuk merayakan malam tahun baru dikota Seoul. Jadi tempat itu merupakan tempat peninggalan zaman dinasti Joseon dengan bangunan khas tradisonal Korea dilengakapi lonceng raksasa. Dari namanya kan sudah jelas lah yah, kenapa gue ceramah.

Bunyi lonceng raksasa itu katanya sih hanya dibunyikan pada saat hari hari tertentu dan bisa dijadikan hari spesial untuk masyarakat Korea. Contohnya dibunyikan saat hari kemerdekaan Korea, dan tentunya saat malam tahun baru. 

Kepadatan orang nungguin lonceng bunyi
Rakyat Seoul dan sekitarnya akan berbondong bondong datang diacara itu, hanya untuk mendengar bunyi lonceng pas tepat malam pergantian tahun. Tua muda, pria wanita, cantik ganteng, bahkan kaum jones dan mahluk gagal move on juga ikut datang ke situ. 

Jalanan ditutup tepat sebelum beberapa rangkaian acara dimulai, polisi berjaga dan gue rasa jumlahnya semakin menambah kepadatan pengunjung. Saking penasarannya, gue rela berjubel dan jalan bolak balik gaje nyari tempat yang bagus buat nonton lonceng raksasa berbunyi. Jalan aja susah banget, berdesakan biar lolos dari himpitan orang. Gue sampai ngemeng gaje jangan sampai macam tragedi Mina terjadi di Seoul, karena misal terjadi gue makin dosa dan yang jelas karena gue belum kawin. Ok fix abaikan kalimat tadi.

Biar tidak bete nungguin lonceng kamipun sibuk nyari tempat biar bisa lihat panggung. Apa daya karena banyaknya orang kami gak bisa lihat panggung dan hanya bisa lihat dari layar besar. Sibuk foto foto, ada yang merekam, ada pasangan yang pamer kemesraan sambil pelukan, ada yang pingsan dan tentunya ada yang selfi macam gue dkk.

abaikan orang berjaket berbulu, karena itu bukan rombongan kami
Setelah detik detik ijab kabul semakin dekat, eh maksud gue detik detik terakhir tahun 2015, maka hitungan mundur untuk menyambut detik pertama tahun 2016 dimulai. Orang orang-pun ikut berhitung mundur secara serentak dengan bersemangat. Hitungan dimulai dari seratus, kelamaan dong kak kalau dimulai dari seratus, yang benar dimulai dari sepuluh sampai jeng jeng welcome 2016. Lonceng berbunyi sebanyak tiga kali yang dipukul dengan alat besar semacam digotong oleh beberapa pejabat penting Seoul. 

Lonceng berbunyi dan cuma gitu doang tanpa ada kembang api. Berasa garing banget, jadi denger lonceng bunyi, bubar jalan. Semacam bunyi lonceng sekolah dan kemudian para siswa pulang. Jadi setelah itu dilanjut pidato singkat oleh walikota Seoul dan beberapa penampilan artis K-Pop yang gue gak tahu. Rasa kecewa menggelayuti pikiran kami gegara tidak ada kembang api.

Untuk menghilangkan rasa kecewa yang mendera, esoknya sehabis pulang jumatan ritual jalan jalanpun dimulai lagi. Yah cuma liat Namsan Tower aja sih. Namanya juga liburan semua orang berjubel pada pengin jalan jalan, buktinya adalah padatnya kawasan Namsan Tower dan gagal naik cable car gegara antrian panjang macam antrian bagi bagi sembako deh. Nunggu bis ampe gue berakar malah busnya nolak karena saking padatnya bus. 

Pilihan paling sehat untuk bisa ke Namsan Tower adalah jalan kaki dengan menaiki ratusan anak tangga. Yah macam hiking gaul deh daripada balik jalan gak jadi ke Namsan Tower. Beberapa kali datang ke Namsan Tower pas siang, dan ini sudah gelap. Oh Tuhan, sungguh amazing ternyata lihat kota Seoul dimalam hari dari ketinggian. Sepanjang perjalanan engkau akan disuguhi pemandangan kerlap kerlip lampu dari gedung dan jalanan yang ada di Seoul. Napas tersengal sengal jadi panjang lagi deh misal udah lihat Seoul malam hari.

Ternyata ramai juga yang jalan
Sesekali foto foto sambil istirahat adalah cara paling oke biar eloh gak capek. Beberapa tempat memang disediakan semacam deck untuk berfoto dengan panorama malam Seoul yang gemerlap. Bisa kebayang deh macam gue ini yang suka banget lihat pemandangan dari ketinggian. Gratis kakak, soalnya pas gue ke Hongkong harus bayar agar bisa lihat panorama Hongkong dari ketinggian di deck yang kece badai.

Seoul kala malam hari
Tibalah saatnya kami di Namsan Tower yang sudah menyala hijau dimalam hari dengan selamat. Ramai banget walaupun malam dan suhu dingin. Mungkin karena musim liburan akhir tahun. Makan aja harus nunggu kursi kosong. Duh misal gue buka lapak bakso laris gak sih. Beli kopi aja ngantri, foto aja harus sabar nunggu orang biar gak ganggu objek alias model ber-aksi. Ya sudahlah kami sebagai rombongan tante dan om yang gila selfi, sebagai syarat syah maka kami menunaikan selfi dengan latar Namsan Tower

Om om dan Tante tante gila selfi
Rute dilanjutkan ke Itaewon untuk ketemu teman lain yang sudah nunggu. Disonoh sih cuma jalan ngukur jalan seberapa panjang dan lihat dunia malam di Itaewon yang banyak club dan tempat dugem. Kami sebagai anak baik dan rajin menabung cuma makan sambil ngobrol sampai mulut berbusa di rumah makan. Bosen di rumah makan, pindah di kafe yang buka dua puluh empat jam. Kongkow gaul menikmati minuman kopi sampai jam enam pagi. Yang lain asyik ngobrol, gue gak sanggup nahan ngantuk dan akhirnya sedikit terlelap di kursi dan merebahkan kepala di meja. 

Ok guys, seru juga sih ngelayabnya. Cuma gini, pas pagi gue udah merasa tengkuk pegal, mata ngantuk berat, perut kembung, tenggerokan serak. Ok fix gue masuk angin...